Resensi Novel Angkatan 20-an dan 30-an "Salah Asuhan"
I. I.
Identitas Novel
a. Judul :
Salah Asuhan
b. Nama
Pengarang : Abdoel Moeis
c. Nama
Penerbit : Balai
Pustaka
d. Tahun
Terbit : 1928
e. Tebal
Buku : 273
halaman
f.
Harga Buku : Rp ,-
II. II.
Ringkasan Novel
Kisah cinta antara dua anak manusia, Corrie
Du Bussee dengan seorang pemuda Minang bernama Hanafi. Kisah cinta mereka penuh
intrik pun konflik sebab pada faktanya Corrie adalah bagian dari keangungan
Eropa, meski ibunya seorang pribumi. Dan Hanafi sendiri adalah pemuda biasa
yang berasal dari Solok, berpendidikan tinggi dan berpandangan
kebarat-baratan. Bahkan ia cenderung memandang rendah bangsanya sendiri. Dari
kecil Hanafi berteman dengan Corrie du Bussee, gadis Indo-Belanda yang amat
cantik parasnya. Karena selalu bersama-sama mereka pun saling mencintai. Tapi
cinta mereka tidak dapat disatukan karena perbadaan bangsa. Jika orang
Bumiputera menikah dengan keturunan Belanda maka mereka akan dijauhi oleh para
sahabatnya dan orang lain. Pada saat itu, budaya mereka tidak
memungkinkan untuk menyatukan seorang Eropa dengan Pribumi. Meski Corrie juga
menaruh hati pada Hanafi.
Namun pertentangan hebat dalam dirinya
membuat ia meninggalkan Solok dan berangkat ke Betawi untuk melanjutkan
pendidikannya. Hanafi sangat terpukul dan
terluka. Ia mengurung dirinya, tidak berminat lagi pada aktifitas manusia
semacam makan dan minum. Ia berubah menjadi seseorang yang acuh pada lingkungan
dan kurus layaknya seseorang yang diserang penyakit ganas. Akhirnya
ibu Hanafi berniat ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah. Rapiah adalah sepupu
Hanafi, gadis Minangkabau sederhana yang berperangai halus, taat pada tradisi
dan adatnya. Alasan Ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah yaitu
untuk membalas budi pada ayah Rapiah yang telah membantu membiayai sekolah
Hanafi. Awalnya Hanafi tidak mau karena cintanya hanya untuk Corrie saja. Tapi
dengan bujukan ibunya, ia terpaksa menikah juga dengan Rapiah. Karena Hanafi
tidak mencintai Rapiah, wanita itu hanya diperlakukan seperti babunya, mungkin
Hanafi menganggap bahwa Rapiah itu seperti tidak ada apabila banyak temannya
orang Belanda yang datang ke rumahnya. Hanafi dan Rapiah dikarunia seorang anak
laki-laki yang bernama Syafei. Meski mereka telah memiliki buah hati
bernama Syafi’i, namun bocah tersebut selalu merasa tak aman dan nyaman saat
berada dekat dengan sang ayah. Hanafi tak hanya berperangai buruk pada Rapiah
dan anaknya, tetapi juga pada sang ibu yang melahirkannya ke dunia ini.
Suatu hari Hanafi digigit anjing gila,
maka dia harus berobat ke Betawi agar sembuh. Di Betawi Hanafi dipertemukan
kembali dengan Corrie. Disana, Hanafi menikah dengan Corrie dan mengirim surat
pada ibunya bahwa dia menceraikan Rapiah. Ibu Hanafi dan Rapiah pun sangat
sedih tetapi walaupun Hanafi seperti itu, Rapiah tetap sabar dan tetap tinggal
dengan Ibu Hanafi. Perkawinannya dengan Corrie ternyata tidak bahagia,
sampai-sampai Corrie dituduh suka melayani laki-laki lain oleh Hanafi. Akhirnya
Corrie pun sakit hati dan pergi dari rumah menuju Semarang. Corrie terkena
sakit Kholera dan akhirnya meninggal dunia. Hanafi sangat menyesal telah
menyakiti hati Corrie dan sangat sedih atas kematian Corrie, Hanafi pun pulang
kembali ke kampung halamannya dan menemui ibunya. Di sana, Hanafi hanya diam
saja. Seakan-akan hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Hanafi sakit, kata
dokter ia meminum sublimat (racun) untuk mengakiri hidupnya, dan akhirnya dia
meninggal dunia.
III. III.
Penilaian Novel
a. Kelebihan
1. Segi
Fisik
-
Gambar dan warna pada sampulnya menarik
perhatian pembaca
-
Kertas pada novel ini juga tebal
sehingga tidak mudah robek ketika dibalik
2. Segi
Isi
-
Cerita cukup menarik niat pembaca
-
Terdapat arti per kata yang sifatnya
baku
-
Novel ini memiliki pesan yang mendalam
b. Kekurangan
1. Segi
Fisik
-
Bentuk tulisannya sulit dibaca
2. Segi
Isi
-
Terlalu banyak bahasa Melayu yang digunakan
dalam novel ini
-
Pengarang menuliskan novel ini dari
sudut pandang budaya setempat sehingga berbeda dengan kebudayaan si pembaca
IV. IV.
Penutup
a. Kesimpulan
Novel ini, menceritakan tentang pernikahan yang memiliki
kebudayaan yang berbeda, yaitu orang Timur dengan orang Barat. Dari pernikahan
ini, tidak dari keduanya merasa bahagia melainkan saling menuduh dan tidak
mempercayai satu sama lain. Kebudayaan itu sendiri sangat penting untuk orang
menjalin hubungan dengan masyarakat.
b. Saran
Disarankan,
bagi remaja di Indonesia tidak malakukan pernikahan berbeda budaya. Mungkin hal
itu tidak akan langsung terjadi pada awal pernikahan mereka, tetapi kapan pun
hal itu akan terjadi apabila pasangan Anda merasa berbeda pendapat dengan Anda.
Komentar
Posting Komentar