Contoh Drama tentang Pergaulan Remaja
PERGAULAN REMAJA
Seorang anak yang telah ditinggal oleh ayahnya semenjak kelas 6 SD, bertahan sampai saat ini bersama ibunya. Ibunya bekerja keras untuk menghidupi anak semata wayangnya.
Pada
malam hari, Putri mengatakan kepada ibunya kalau selama ini ibunya tidak memperhatikannya
karena sibuk bekerja.
Putri : Ibu, kenapa ibu selalu bekerja dari pagi
sampai malam? Setiap hari aku selalu sendirian di
rumah.
Selvia :
Ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita, sayang. Selama ini kamu bisa beli
apa yang
kamu mau dapat dari mana kalau ibu tidak
kerja? Seharusnya kamu tau hal itu.
Putri : Tapi aku ingin ibu di rumah bersamaku.
Aku juga ingin seperti teman-temanku yang setiap
hari diantar jemput oleh orang tuanya. Bahkan mereka bilang kalau setiap
harinya diajari
orang tuanya, tidak seperti aku. Belajar pun dengan orang lain.
Selvia : Kenapa kamu jadi sperti ini? Kamu mau ibu
tidak bekerja lalu kamu pindah ke rumah yang
lebih kecil karena ibu tidak punya uang lagi. Iya?
Putri : Tidak, aku tidak mau. Lebih baik ibu
kerja saja sana dan tidak perlu mengurusi aku lagi
(Sambil bangun dari tempat duduknya dan bergegas pergi ke kamarnya)
Selvia : Hei!!! Dengarkan kalau orang tua sedang
bicara!!!
Keesokan
harinya, hari Sabtu di mana Ibunya Putri masih sibuk bekerja seperti biasa. Ia
pun langsung pergi dengan mobilnya, tanpa pamit kepada anaknya.
Putri : Kemana ibu? Orang tua yang tidak pernah
memperhatikan anaknya. Sudah tau hari libur,
masih saja sibuk bekerja. Apa aku ini tidak penting baginya? Kalau begitu
untuk apa aku
berbuat baik selama ini kalau dia tidak pernah menganggapku.
Tiba-tiba
terdengar suara dari luar memanggil nama Putri.
Tami : Putri, Putri, Putri?
Putri : (membuka pintu) Ada apa Tami?
Tami : Ke Masjid Yuk. Di sana santunan anak yatim
dan kita diminta jadi panitianya.
Putri : (Tanpa berpikir panjang) Ayo. Dari pada
aku di rumah sendiri bingung tidak karuan
sendirian di rumah.
Mereka
berdua pergi dari rumah Putri dan berjalan melewati jalan di mana banyak remaja
yang tidak baik sedang berkumpul untuk makan dan minum.
Sifah : Hei kalian mau kemana?
Tami : Mau ke masjid.
Sifah : ngapain kalian ke sana? Mendingan main
sama kita aja di sini?
Putri : Apa? Main? Aku tidak salah dengar kalian
mengajakku main.
Jannah
: Tidak. Memangnya ada apa dengan kalian.
Tidak ada yang salah ataupun aneh dengan
kalian. Hanya saja barang yang kalian bawa aneh dan baunya tidak enak.
Tami : Kalian ini tidak pernah diajarkan oleh
orang tua kalian apa? Kalau bicara itu dijaga jangan
sampai kelewatan seperti itu. Kalian pikir aku akan diam saja?
Vita : UUUhhhhhhh, takuttttt.
Vita,
Jannah, dan Sifah pun tertawa mendengar ucapan vita yang spontan terdengar
lucu.
Tami : Sudah kita pergi saja dari sini (Sambil
menarik tangan Putri yang sempat terdian dengan
tatapan kosong seprti memikirkan sesuatu)
Putri : Tam, kalau kita bergabung dengan mereka
bagaimana?
Tami : Kamu ini sadar gak apa kamu omongin?
Putri : Iya. Emangnya kenapa? Ada yang salah?
Tami : Mereka itu anak-anak yang tidak baik. Jangankan sama kita, sama orang tuanya
sendiri aja
mereka gak peduli.
Putri : Tapi aku ingin mencoba bergabung dengan
mereka. Pasti seru dan asik.
Tami : Terserah kamu lah Put. Aku tidak mau
melarang.
Setelah
mereka menjadi panitia di masjid, mereka
pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, ternyata sudah ada Ibunya
yang pulang lebih cepat dari perkiraannya.
Putri : Assammualaikum?
Selvia : Wa’alaikum salam.
Putri : Tumben ibu sudah ada di rumah, biasanya
masih sibuk di meja kerja sana.
Ibu : Tadi ibu minta pulang lebih cepat
biar ibu bisa sama kamu di rumah.
Putri : oh begitu.
Ibu : Makan dulu sana, kamu pasti cape
habis dari masjid.
Putri : Iya, aku makan (sambil menuju meja
makan)
Ibu : Makan yang banyak.
Keesokan
harinya, hari Minggu di mana Tami dan Putri diminta menjadi panitia masjid
kembali. Mereka melewati jalan yang sama seperti kemarin dan menemui remaja
yang kemarin pula.
Tami : Lagi-lagi anak liar itu. Apa mereka
tidak ada kerjaan di rumah sehingga main terus seprti itu?
Putri : Biarkan saja mereka.
Sifah : Ehhh, kalian lagi. Bagi duit dong.
Putri : Duit? Gak ada
Jannah : Boong lo, masa orang kek lo yang punya duit.
Mana sini lama banget?
Tami : Kalian punya kuping gak sih, dibilang
gak punya masih aja minta.
Vita :Santai Bos. Gak usah nyolot. Santai aje
kek di pantai (sambil memegang dagu Tami yang
mendengus kesal)
Putri
dan Tami pun berlari dengan cepat agar mereka tidak dapat memalak lagi. Setelah
sampai di masjid, Putri semakin yakin akan niatnya untuk berteman dengan
anak-anak tadi.
Putri : Tam, kamu duluan masuk ke dalam. Aku
ingin membeli minum sebentar di warung
Tami : Ya udah cepet. Aku tunggu di dalam.
Putri
pun berbohong pada Tami, padahal putrid ingin kembali ke tempat perkumpulan
tadi.
Vita : Ngapain balik lagi ke sini? Pengen
ceramahin kita?
Putri : Aku ingin bergabung dengan kalian di
sini. Kira-kira boleh tidak?
Sifah : Terus temen Lo gimana? Lo tinggalin gitu
aja? Nanti kita diceramahin lagi.
Putri : Sudah, lupain aja dia.
Vita : Oke. Tapi kita gak mau terima Lo gitu
aja.
Putri : Kalau gitu, aku akan bayar semua makanan
dan minuman yang kalian makan. Bagaimana?
Vita : Ya udah, bayar aja sana. Gak ada yang
nyuruh Lo juga kan.
Sifah : Udah yuk cabut.
Melihat
mereka bergegas pergi, Putri hanya diam.
Sifah : Lo ngapain diem di situ? Mau ikut gabung
sama kita gak sih?
Putri : Mau.
Vita : Ayo cepat. Lo ngapain bawa ini kalo
mau ikut kita (sambil meletakkan mukena di atas meja
warung tadi)
Sesampainya
mereka di tempat minuman keras, Putri merasa aneh dan takut sehingga pergi lari
meningglkan mereka.
Jannah : (menengok ke belakang) Putri? Lo mau kemana?
Sifah
: Udah diemin aja. Mungkin dia takut.
Yang penting tadi kita makan gratis.
Di
masjid, Tami khawatir dengan keadaan Putri yang sudah lama tidak kembali.
Tami : Aduh Putri, kamu di mana? Tadi kamu
bilang mau beli minum, tapi kenapa tidak balik-balik.
Putri : (Tiba-tiba muncul) Maaf Tam, udah nunggu
lama. Tadi aku dikejar-kejar anjing. Makanya
aku
kehabisan nafas.
Tami : Hmmm. Aku kira kamu digangguin sama
anak-anak tadi. Ya sudah, ayo masuk. Kasian anak-anak yang lain sudah menunggu kamu.
Setelah
acara di masjid selesai, Putri cepat-cepat mengajak pulang Tami dan
mengantarnya pulang karena merasa tidak enak terhadap Tami.
Putri : Tam, aku akan mengantarmu sampai rumah
Tami : Tidak usah. Lagi pula kita kan beda
arah.
Putri : Tidak apa-apa. Anggap saja permintaan
maafku.
Tami : Permintaan maaf apa?
Putri : Anggap saja aku punya salah padamu.
Tami : Baiklah, kalau itu maumu.
Setelah
mengantar Tami pulang, Putri langsung cepat-cepat pergi ke rumhnya dan ingin
meminta maaf pada Ibunya.
Putri : Assalammua’laikum
Sevia : Wa’alaikum salam. Kamu sudah pulang.
Bagimana acaranya tadi? Rame atau tidak?
Putri : Rame Bu. Banyak anak kecil yang sudah
jago ngaji.
Selvia
: Baguslah. Berarti mereka banyak
peningkatan.
Putri : Bu, Ibu tau anak-anak yang suka
nongkrong di warung dekat masjid tidak?
Selvia : Tahu. Memangnya kenapa?
Putri : Sudah dua hari ini, aku dan tami
diganggu oleh mereka, Bu.
Selvia : Diganggu bagaimna?
Putri : Dipalak. Kalau kemarin mereka hanya
mengajakku bermain
Selvia : Apa? Main? Kamu jangan pernah mau kalau
diajak main dengan mereka. Mereka itu anak-
anak yang tidak pernah diurus oleh orang tuanya makanya mereka menjadi
seperti itu.
Mendengar
perkataan Ibunya, Putri terkejut dan menghilangkan niatnya untuk berteman
dengan mereka.
Putri : Bu, aku minta maaf.
Selvia : Untuk apa?
Putri : Tadi aku penasaran dengan mereka,
jadinya aku pergi ikut dengan mereka. Saat aku ikut
dengan mereka, ternyata mereka pergi ke tempat menjual minuman keras.
Selvia : Kamu ikut dengan mereka? (dengan nada yang
sedikit terkejut)
Putri : Iya, Bu. Tapi setelah aku melihat ke
sekeliling, aku berpikir dan pergi lari dari mereka.
Mereka begitu menakutkan bagiku, Bu. Aku belum pernah ke tempat seperti
itu.
Selvia : Untunglah kamu selamat dari sana, Nak.
Kalau tidak, kamu akan cepat terjerumus ke sana
dan akan terus-terusan ke sana tanpa sepengetahuan Ibu.
Putri : Aku minta maaf, Bu. Aku tidak akan
mengulanginya lagi. Aku juga merasa takut dengan
mereka sekarang. Aku juga mersa beruntung sekarang punya Ibu yang masih
memperhatikan aku. Ternyata aku salah menilai Ibu
Selvia : Iya, Nak. Sekarang kamu makan saja dulu.
Tidak baik bicara sambil makan. Habiskan
semuanya, agar kamu tumbuh besar dan sehat.
Akhirnya,
Putri merasa bersalah pada Ibunya dan meminta maaf. Ibunya pun mengetahui
problema yang dialami Putrinya yang sangat disayangi.
Komentar
Posting Komentar