Kumpulan Syair Pelajaran Bahasa Indonesia
SYAIR
UNTUK GURU
Oleh: Dewan Pendidikan Kota Tebing
Tinggi
Kalau hendak ke padang datar
Jangan lupa bawa tembikar
Kalau hendak cerdaskan pelajar
Jangan mendekte waktu mengajar
Hari kedua namanya selasa
Almanak dipasang di ruang kaca
Budak belia bukan orang dewasa
Jangan sampaikan ilmu seperti membaca
Bambu sebatang dari Langsa
Dibelah menjadi para-para
Guru bukan si serba bisa
Karena itu jadilah sutradara
Anak teri dimakan ikan
Apa makanan sikera jantan
Berdiri di depan seperti pameran
Jangan lakukan sepanjang zaman
Di seberang pagar taman rambutan
Jangan dimakan di pinggir jalan
Mereka yang diajar beda kemampuan
Jangan samakan dalam pengajaran
Benalu tumbuh di atas dahan
Kuntum Anyelir di atas papan
Letih dirasa siapkan bahan
Tersenyum bibir kala berhadapan
Kerupuk dibuat di atas tikar
Tepung diaduk lalu dibakar
Buat persiapan banyak kelakar
Bakal dikutuk waktu mengajar
IBADAH
Karya :
Rizki Muhamad Iqbal dan Ninda Ika Julyanti
Janganlah engkau berbuat maksiat
Janganlah engkau berbuat jahat
Segeralah engkau bertaubat
Agar selamat dunia akhirat
Janganlah
engkau bertakabur
Perbanyaklah
engkau bertapakur
Mendapatkan
nikmat harus bersyukur
Agar selamat
dari siksa kubur
Ayat-ayat
suci yang selalu ku ucapkan
Solat lima
waktu kulaksanakan
Dzikir-dzikir selalu ku lantunkan
Ibadah
kepadamu tuhan
Bertaubatlah setelah berbuat salah
Karena kita makhluk yang lemah
Bantu aku dan tuntunlah
Untuk menggapai surgamu yang indah
Dunia ini memang tua
Sebaiknya jangan untuk huru
hara
Ibadahlah memohon ampun
kepada-Nya
Sesungguhnya hanya engkau yang
sempurna
Mari kita semua sahabat
Perbanyak lah membaca sholawat
Perbanyak lah membaca sholawat
Seksa kubur semua lewat
Menuju ke alam akhirat
KESENDIRIAN
Oleh Ahsanun Nailillah
Kau
kah yang meminjamkan paras cantik pada purnama
sebab di setiap genangan cahayanya kutemui wajahmu
aku pun larut di buai pelukan purnama yang merona.
sebab di setiap genangan cahayanya kutemui wajahmu
aku pun larut di buai pelukan purnama yang merona.
Kau kah yang meminjamkan selendang sutra pada kabut
sebab di setiap selimutan kabut menebar kesejukan jiwaku
aku pun pasrah di buai balutan warna putihnya.
Kau kah yang meminjamkan bingkai cinta kita pada jendela
sebab di setiap sudutnya ku lihat ranting-ranting menghiyas indah
aku pun lerut di buai lukisan malam yang hening tanpamu.
sebab di setiap selimutan kabut menebar kesejukan jiwaku
aku pun pasrah di buai balutan warna putihnya.
Kau kah yang meminjamkan bingkai cinta kita pada jendela
sebab di setiap sudutnya ku lihat ranting-ranting menghiyas indah
aku pun lerut di buai lukisan malam yang hening tanpamu.
Komentar
Posting Komentar